Metode Pendidikan Dalam
Al-Qur’an
Oleh:
Arlan: 30300113056
Ilmu al-Qur'an dan Tafsir UIN Alauddin Makassar
A. Ayat dan
Terjemahnya
Ayat yang menjadi kajian tentang
metode pendidikan dalam al-Qur’an adalah QS. al-Maidah/5: 35
Terjemahnya:
Hai orang-orang yang beriman!
bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) untuk mendekatkan diri
kepada-Nya, dan berjihadlah (berjuanglah) di jalan-Nya, agar kamu keberuntungan[1]
Ayat ini berbicara tentang
orang-orang yang beriman yang diseruh untuk selalu bertakwa kepada Allah swt.
dan dianjurkan untuk mencari wasilah atau jalan, di mana jalan tersebut
menuntun ia untuk lebih medekatkan diri kepada Allah swt. dan berjihad atau
berjuang kepada di jalan Allah swt., atau bersungguh-sungguh dalam melakukan
perbuatan baik, sehingga dengan perbuatan tersebut ia dapat dikategorikan
orang-orang yang beruntung, baik di dunia maupun di akhirat.
B. Makna
Kosa Kata
- ءامنوا
Kata
“a>manu>” adalah salah satu derivasi dari kata “amina” yang
terdiri dari huruf hamzah, mi>m dan nu>n. Dalam Mu’jam
Maqa>yi>s al-lugah syekh Ibnu Fa>ris menyatakan bahwa kata “amina”
berasal dari dua kata yang saling berdekatan maknanya, salah satunya adalah ama>nah
(amanah) yaitu lawan dari khiya>nah (khiyanat) yang bermakna suku>nu
al–qalb atau ketenangan hati atau kepercayaan.[2] Al-Ra>g}ib al-As}fah}a>ni mengartikan kata amana
dengan t}uma’ni>natu al-Nafsi wa zawa>lu al-Khaufi yang artinya
ketenangan hati dari ketakutan. Kata ini juga bisa diartikan sebagai ‘suatu
kepercayaan yang diberikan kepada manusia’ kata lainnya ‘i’t}a>u
al-Ama>natu yakni memberikan
amanah’.[3] Kata “a>manu>” disebutkan dalam al-Qur’an sebanyak 258 kali[4]
- التقوا
Takwa
artinya menghindar. Orang bertakwa adalah orang terhindar. Terhindar yang
dimaksud adalah terhindar dari kekufuran dengan jalan beriman kepada Allah
swt., berupaya melaksanakan perintah Allah sepanjang kemampuan yang dimiliki
dan menjauhi larangannya, dan menghindarkan diri segala aktivitas yang
menjauhkan pikiran dari Allah swt.[5]
atau dalam pengertian lain, secara bahasa takwa adalah menjaga diri dari segala
yang membahayakan, atau berjaga-jaga atau melindungi dari sesuatu. Sedangkan
secara terminology sebagaimana di atas bahwa menjaga diri dari segala perbuatan
dosa dengan meninggalkan segala yang dilarang oleh Allah swt. dan melaksanakan
segalah yang diperintahkannya.[6]
3. الوسيلة
Wasi>lah
adalah bentuk mashdar dan fi’il madhi wasala (وسل) yang
hampir mirip maknanya dengan washilah bentuk mashdar washala. Keduanya bisa
diartikan sebagai “sesuatu yang meyambung dan mengantarkan sesuatu yang lain”.
Hanya saja menurut al-Ashfahani wasi>lah lebih spesifik penertiannya
dibandingkan washilah karena wasi>lah adalah “upaya menyambung yang
didasarai oleh keinginan yang kuat.[7]
- وجهدوا
Secara
bahasa kata جَاهِدُ
(jāhidu) berasal dari kata جَهَدَ yang berarti tenaga usaha dan
kekuatan. Sementara kata jihād
atau mujāhadah
diartikan sebagai menguras kemampuan. Kemudian kata جَهَدَ dalam turunannya dengan jalan
penambahan satu huruf alif, menyebabkan perubahan makna yang lebih intensif,
yaitu “kesungguhan melaksanakan pekerjaan” meningkat menjadi maksimal “dengan
jalan mencurahkan seluruh potensi yang ada”. Dalam hal ini, جهد kesungguhan dalam
melaksanakan sebuah pekerjaan dengan jalan mencurahkan segenap potensi yang
ada. Sedangkan secara istilah جهد atau جِهَاد dimaknai sebagai suatu kewajiban bagi umat Islam yang sifatnya
berkelanjutan hingga hari kiamat. Di mana tingkat terendahnya adalah penolakan
hati atas keburukan dan kemungkaran, sedang tingkat tertingginya adalah berupa
perang di jalan Allah. Di antara keduanya ada perjuangan dengan lisan, pena,
tangan beruapa pernyataan tentang kebenaran dihadapan penguasa yang zalim.[8]
- فلح
فلح berarti sukses, kemakmuran, kemenangan, dan kejayaan, berhasil,
dan beruntung.[9]
kata aflaha terambil
dari kata falah yang diartikan sebagai ”memperoleh yang dikehendaki”.
Kata ini sering diterjemahkan dengan “beruntung”, “berbahagia”, memperoleh
kemenangan, dan sejenisnya.[10]
Sebagaimana telah disebutkan di atas, kata aflaha ditemukan empat kali,
salah satunya misalnya dalam QS. Thaha: 64
dalam
al-Qur’an sebanyak empat kali
C. Penjelasan
Tafsir Ayat
يأ يّها الذيى ءامنوالتقوالله
“Hai orang-orang yang
beriman! bertakwalah kepada Allah”
Dalam ayat ini, Allah swt.
berfirman memerintahkan kepada hamba-Nya. Lafaz takwa apabila dibarengi
penyebutannya dengan makna yang menunjukan taat kepadanya, maka makna yang
dimaksud adalah mencegah diri dari hal-hal yang diharamkan dan meninggalkan
semua larangan.[11]
Dalam hal ini, memelihara diri dari murka dan siksa Allah, dengan cara tidak
melanggar agama dan syariat-Nya.[12]
Selanjutnya Allah berfirman:
وابتغوا إليه الوسيلة
“dan
carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya”
Al-wasi>lah yang dimaksud
dalam ayat ini adalah qurbah atau mendekatkan diri kapada Allah swt.[13] penmaknaan
tersebut juga diutarakan oleh Ibnu Abbas, Qatadah memahami al-wasi>lah
dengan makna dekatkanlah diri kalian kepada-Nya dengan taat kepada-Nya dan
mengerjakan hal-hal yang diridai-Nya.[14]
atau dapat pula
dipahami bahwa al-wasi>lah yang dimaksudkan ayat ini adalah sarana yang
dapat menyampaikan seseorang kepada keridaan Allah dan kedekatan di sisi-Nya,
serta mendapatkan pahala-Nya kelak di Darul Karamah (akhirat).[15]
Sehubungan dengan makna
al-wasi>lah ini, Ibnu Zaid membacakan firman Allah QS. al-Isra>’/17: 57
berikut.
Terjemahnya:
orang-orang
yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka.
Yakni dengan bacaan tadu>na
bukan yadu>na. dari ayat ini tersimpulkan bahwa makna al-wasi>lah
ialah jalan atau sarana. Pendapat yang telah dikatakan dalam beberapa pendapat
di atas tidak ada yang mempersilisihkannya. Jadi al-wasi>lah adalah
sarana untuk mencapai tujuan. Al-wasi>lah mengandung makna “nama
suatu kedudukan yang tertinggi di dalam surga, yaitu kedudukan Rasulullah saw.
dan rumah tinggalnya dalam surga.
Selanjutnya Allah Berfirman
وجهدوا في سبيله
“dan
berjihadlah pada jalan-Nya”
Al-jiha>d, dari kata al-Juhdu atau
jahad bermakna kesukaran dan kepayahan. Sedangkan sabi>lulla>h
ialah jalan kebenaran, kebaikan, dan keutamaan.[16]
Dalam hal ini, usaha apa pun dalam rangka membela kebenaran, dan derita yang
ditanggung oleh manusia dalam menegakkan kebenaran tersebut, adalah jiha>d
fi> sabi>lillaha>h. Maka ayat ini dipahami bahwa jihad yang
dimaksud adalah lawanlah nafsumu dengan mencegahnya dari menuruti
keinginan-keinginannya, dan membawanya untuk bersikap adil dan seimbang dalam
keadaan apa pun.[17]
Di sampin itu, juga lawanlah musuh-musuh-Ku dan musuh-musuhmu, yaitu melawan
orang-orang kafir dan orang musyrik yang keluar dari jalan yang lurus dan
meninggalkan agama yang benar.[18]
Dan biarlah dirimu menanggung susah dalam memerangi mereka dan mencagah mereka
dari melawan dakwah Islam.[19]
Dan firman-Nya
لعلكم تفليحون
“supaya
kalian mendapat keberuntungan”
Melalui ayat ini, Allah swt.
memberikan dorongan kepada mereka yang berjihad melalui apa yang telah
disediakan pada di dunia dan di hari kiamat nanti berupa keberuntungan dan
kebahagiaan yang besar lagi kekal dan terus menerus yang tidak akan lenyap,
tidak akan berpindah, serta tidak akan musnah di dalam gedung-gedung yang
tinggi lagi berada di kedudukan yang tinggi[20],
dan kelanggengan dalam surge yang penuh kenikmatan.[21]
D. Analisis
Ayat Tehadap Metode Pendidikan
Metode berarti cara atau
langkah. Atau dapat dipahami sebagai cara yang teratur dan terpikir baik-baik
untuk mencapai suatu maksud, cara kerja yang bersistem untuk memudahkan
pelaksanaan sesuatu kegiatan guna mencapai tujuan yang dutentukan.[22]
Berangkat dari pengertian ini, maka yang dimaksudkan dengan metode pendidikan
al-Qur’an adalah berbicara tentang cara pembelajaran yang semestinya dilakukan
oleh manusia untuk mencapai cita dan keinginannya. Dalam hal ini, Allah swt.
berfirman dalam QS. al-Ma>idah/5: 35, sebagai berikut.
Terjemahnya:
Hai orang-orang yang beriman!
bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) untuk mendekatkan diri
kepada-Nya, dan berjihadlah (berjuanglah) di jalan-Nya, agar kamu keberuntungan [23]
Memelaui ayat ini, Allah swt.
memerintahkan kepada orang beriman untuk bertakwa dan menganjurkan manusia
untuk semestinya mencari wasilah atau sarana untuk lebih mendekatkan diri
kepada Allah swt. Dan salah satu sarana tersebut adalah jiha>d fi>
sabi>lilla>h (berjuang di jalan Allah). Dalam pengertian jiha>d
dipahami bahwa kata jahada bermakna tenaga, usaha, kekuatan, menguras
kemampuan. Kemudian pemaknaan tersebut berkembang menjadi “kesungguhan dalam
melaksanakan suatu pekerjaan”. Menguras kemampuan maksudnya menggunakan segala
potensi yang dimiliki untuk mencapai cita dan harapan. Oleh sebab itu,
kaitannnya dalam dunia pendidikan adalah Allah swt. telah memberikan manusia
berbagai macam potensi dalam dirinya, maka sudah semestinya potensi tersebut
dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Sehingga dapat mewujudkan insan yang
berilmu dan bermanfaat, sebab orang-orang yang berilmu akan diangkat
derajantnya disisi-Nya sebagaimana firman-Nya berikut.
Terjemahnya:
Wahai orang-orang beriman!
Apabila dikatakan kepadamu: "berilah kelapangan di dalam majelis-majelis",
Maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila
dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat
(derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu
beberapa derajat. dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan[24]
Di sisi lain, jiha>d sebagai
sarana dalam mendekatkan diri kapada Allah swt. jika dipahami sebagai berjuang
dan berperang, maka sudah semestinya sebagai umat beragama Islam ikut andil dalam
memberantas keburukan dan kemungkaran. Hal ini sebagai akibat dari pencapaian
ilmu yang bermanfaat bergunana bagi mansuia yang lainnya. Metode lain yang
tersirat dari QS. al-Ma>idah/5: 35 dalam dunia pendidikan adalah bahwa sudah
semestinya dalam proses menempuh pendidikan harus disertai dengan niat yang
ikhlas karena Allah swt. dan bersungguh-sungguh dalam menempuh pendidikan
tersebut (man jadda wa jada).
Akhirnya, segala jerih payah,
bentuk kesukaran, bentuk kesulitan yang dialami selama proses pendidikan, akan
dirasakan manfaatnya seiring berjalannya waktu dan diharapkan dapat menentukan
kepribadian yang dapat mendekatkan diri kepada Allah swt.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur’an al-Karim
Yayasan
Penyelenggara Penerjemah al-Qur’an, al-Qur’an dan Terjemahnya Edisi 1000
Do’a. Bandung: Mizan, 2015
Qardhawi,
Yusuf. Pendidikan Islam dan Madrasah Hasan al-Banna, Terj. Bustami A.
Gani dan Zaenal Abidin Ahmad. Jakarta: Bulan Bintang: 1980
Ibnu
Kas|ir ad-Dimasyqi, Al-Imam Abdul Fida Isma’il. Tafsi>r al-Qur’an
al-‘Az}i>m, Juz VI terj.Bahrun Abu Bakar, Tafsir Ibnu Kats|i>r.
Cet. I; Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2000
Al-Maragi,
Ahmad Mustafa. Tafsir al-Maragi, Juz 4-6, Terj. Bahrun Abu Bakar dan
Heri Noer Aly. Cet. II; Semarang: PT. Karya Toha Putra, 1993
Ibnu
Faris, Mu’jam Maqa>yi>s al-Lugah, jilid 1. Beirut: Da>r
al-Fikr, 1979 M
Munawwir, Ahmad Warson. al-Munawwir:
Kamus Arab-Indonesia, dalam Maktabah al-Kubra Media Pembelajaran dan
Literatur Islam Digital, Ver. 5
Shihab, M. Quraish. Tafsir Al-Qur’an al-Karim: Tafsir atas
Suratsurat Pendek Berdasarkan Urutan Turunnya Wahyu. Jakarta: Pustaka
Hidayah, 1997
-------------------------. Tafsir
al-Misbah: Pesan, Kesan, Keserasian al-Qur’an. Cet. IV; Jakarta: Lentera
Hati, 2002
--------------------------, Tafsir Al-Qur’an al-Karim:
Tafsir atas Suratsurat Pendek Berdasarkan Urutan Turunnya Wahyu. Jakarta:
Pustaka Hidayah, 1997
--------------------------,
dkk., Ensiklopedia al-Qur’an: Kajian Kosa Kata. Cet. I; Jakarta: Lentera
Hati, 2007
Al-Asfaha>ni,
Al-Ra>gib . al-Mufrada>t fi> Gari>bi al-Qura>n. Beirut:
Da>r al-Ma’rifah, t.th.
Al-Ba>qi, Muh}ammad
Fuwa>di abdu. al-Mu’jam al-Mufahras fi alfaz}i al-qur’an al-kari>m. Kairo:
Da>r al-kutub al-mis}riyah, 1364 H
[1] Yayasan Penyelenggara
Penerjemah al-Qur’an, al-Qur’an dan Terjemahnya Edisi 1000 Do’a,
(Bandung: Mizan, 2015), h. 114
[2] Ibnu Faris, Mu’jam
Maqa>yi>s al-Lugah, jilid 1 (Beirut: Da>r al-Fikr, 1979 M), h.
133.
[3]
Al-Ra>gib al-Asfaha>ni>, al-Mufrada>t fi> Gari>bi
al-Qura>n (Beirut: Da>r
al-Ma’rifah, t.th.), h. 557.
[4]
Muh}ammad Fuwa>di abdu al-Ba>qi>, al-Mu’jam al-Mufahras fi alfaz}i
al-qur’an al-kari>m (Kairo: Da>r al-kutub al-mis}riyah, 1364 H), h.
82.
[5]
M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah: Pesan, Kesan, Keserasian al-Qur’an
(Cet. IV; Jakarta: Lentera Hati, 2002), h. 108-109
[6]
M. Quraish Shihab, dkk., Ensiklopedia
al-Qur’an: Kajian Kosa Kata (Cet. I; Jakarta: Lentera Hati, 2007), h. 988
[7]
M. Quraish Shihab, dkk., Ensiklopedia
al-Qur’an: Kajian Kosa Kata, h. 1076
[8] Yusuf Qardhawi, Pendidikan
Islam dan Madrasah Hasan al-Banna, Terj. Bustami A. Gani dan Zaenal Abidin
Ahmad (Jakarta: Bulan Bintang: 1980), h. 74
[9]Ahmad
Warson Munawwir, al-Munawwir: Kamus Arab-Indonesia, dalam Maktabah
al-Kubra Media Pembelajaran dan Literatur Islam Digital, Ver. 5
[10]M. Quraish Shihab, Tafsir
Al-Qur’an al-Karim: Tafsir atas Suratsurat Pendek Berdasarkan Urutan Turunnya
Wahyu, (Jakarta: Pustaka Hidayah, 1997), h. 430
[11]Al-Imam Abdul Fida Isma’il Ibnu
Kas|ir ad-Dimasyqi, Tafsi>r al-Qur’an al-‘Az}i>m, Juz VI terj.Bahrun
Abu Bakar, Tafsir Ibnu Kats|i>r (Cet. I; Bandung: Sinar Baru
Algensindo, 2000), h. 419
[12] Ahmad Mustafa al-Maragi, Tafsir
al-Maragi, Juz 4-6, Terj. Bahrun Abu Bakar dan Heri Noer Aly (Cet. II;
Semarang: PT. Karya Toha Putra, 1993), h. 199
[13] Al-Imam Abdul Fida Isma’il Ibnu
Kas|ir ad-Dimasyqi, Tafsi>r al-Qur’an al-‘Az}i>m, Juz VI terj.Bahrun
Abu Bakar, Tafsir Ibnu Kats|i>r, h. 419
[14]
Al-Imam Abdul Fida Isma’il
Ibnu Kas|ir ad-Dimasyqi, Tafsi>r al-Qur’an al-‘Az}i>m, Juz VI terj.Bahrun
Abu Bakar, Tafsir Ibnu Kats|i>r, h 419
[15] Ahmad Mustafa al-Maragi, Tafsir
al-Maragi, Juz 4-6, Terj. Bahrun Abu Bakar dan Heri Noer Aly, h. 199
[16] Ahmad Mustafa al-Maragi, Tafsir
al-Maragi, Juz 4-6, Terj. Bahrun Abu Bakar dan Heri Noer Aly, hal 200
[17] Ahmad Mustafa al-Maragi, Tafsir
al-Maragi, Juz 4-6, Terj. Bahrun Abu Bakar dan Heri Noer Aly, hal 201
[18] Al-Imam Abdul Fida Isma’il Ibnu
Kas|ir ad-Dimasyqi, Tafsi>r al-Qur’an al-‘Az}i>m, Juz VI terj.Bahrun
Abu Bakar, Tafsir Ibnu Kats|i>r, h. 424
[19] Ahmad Mustafa al-Maragi, Tafsir
al-Maragi, Juz 4-6, Terj. Bahrun Abu Bakar dan Heri Noer Aly, h. 201
[20]Al-Imam Abdul Fida Isma’il Ibnu
Kas|ir ad-Dimasyqi, Tafsi>r al-Qur’an al-‘Az}i>m, Juz VI terj.Bahrun
Abu Bakar, Tafsir Ibnu Kats|i>r, h. 424-425
[21] Ahmad Mustafa al-Maragi, Tafsir
al-Maragi, Juz 4-6, Terj. Bahrun Abu Bakar dan Heri Noer Aly, h. 201
[22] Al-Imam Abdul Fida Isma’il Ibnu
Kas|ir ad-Dimasyqi, Tafsi>r al-Qur’an al-‘Az}i>m, Juz VI terj.Bahrun
Abu Bakar, Tafsir Ibnu Kats|i>r, h. 952
[23] Yayasan Penyelenggara
Penerjemah al-Qur’an, al-Qur’an dan Terjemahnya Edisi 1000 Do’a,, h. 114
[24] Yayasan Penyelenggara
Penerjemah al-Qur’an, al-Qur’an dan Terjemahnya Edisi 1000 Do’a,, h. 544
In this fashion my acquaintance Wesley Virgin's story begins with this shocking and controversial VIDEO.
BalasHapusYou see, Wesley was in the military-and soon after leaving-he found hidden, "SELF MIND CONTROL" tactics that the CIA and others used to get anything they want.
As it turns out, these are the EXACT same secrets many celebrities (especially those who "come out of nowhere") and top business people used to become wealthy and famous.
You probably know that you utilize only 10% of your brain.
That's because most of your brain's power is UNCONSCIOUS.
Perhaps that conversation has even taken place INSIDE OF YOUR own head... as it did in my good friend Wesley Virgin's head about seven years back, while driving an unlicensed, garbage bucket of a car without a license and $3.20 in his bank account.
"I'm very fed up with going through life paycheck to paycheck! Why can't I become successful?"
You took part in those questions, right?
Your own success story is waiting to happen. You just have to take a leap of faith in YOURSELF.
Watch Wesley Virgin's Video Now!